Sabtu, 09 November 2013

Masjid Agung Demak

Rangkaian perjalanan wisata selanjutnya adalah wisata religi ke Masjid Agung Demak sekaligus menunaikan sholat Asar. Disamping itu pula perjalanan ini sekaligus pulang melewati jalan pantura, Semarang - Demak - Kudus - Purwodadi. 

Masjid Demak ini dipercayai menjdai tempat berkumpulnya pala ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah yaitu raja pertama dari kesultanan Demak sekitar abad ke 15 Masehi. (wikipedia)

Jam 16.00 rombongan sudah sampai masjid Demak, yang berada di alun-alun Demak, karena masih suasana liburan lebaran, Masjid Demak banyak sekali pengunjungnya, sebagian besar didominasi plat mobil B dan F.

Di dalam lokasi komplek Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di komplek ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.









Selesai mendokumentasikan wisata di Masjid Agung Demak, perjalanan dilanjukan dengan wisata kuliner di Kudus yaitu Soto Pak Denuh.




Jumat, 01 November 2013

Setelah kecewa di Bukit Cinta, perjalanan kali ini di lanjutkan dengan tujuan obyek wisata Kopeng, yang terkenal dengan wisata alam pegunungan dan cuaca yang dingin seperti di Puncak Bogor. Walaupun berasal dari Purwodadi tapi baru kali ini keluarga kami akan plesiran ke Kopeng.

Menurut info mbah google, kopeng terletak di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Letak geografisnya berada dilereng gunung Merbabu, gunung Telomoyo dan gunung Andong di ketinggian 1450 dari permukaan air laut.

Perjalanan menuju Kopeng sangat mengasyikkan, pemandangan alam yang indah, cuaca yang dingin, jalan yang berkelok-kelok dan yang terpenting bebas dari macet. Sangat berbeda sekali dengan perjalanan menuju kepuncak Bogor yang diwarnai dengan arus lalu lintas yang padat.

Di pinggir jalan banyak yang berjualan waloh dengan ukuran sangat besar-besar, ada juga yang berjualan buah jeruk baby. Seperti di puncak Bogor, dikanan dan kiri jalan menuju puncak Kopeng banyak sekali  hotel dan penginapan dengan tarif dan fasilitas yang bervariasi, tinggal pilih sesuai kamtong kita.

Tepat jam 12.30 perjalanan sampai puncaknya Kopeng, hawa dingin menyambut kehadiran rombongan keluargaku. Mobil kesayangan berhenti di depan Masjid yang baru dibangun untuk menunaikan ibadah sholat Dhuhur sebelum mengunjungi obyek wisata Kopeng. Masjid ini letaknya tepat dipuncak Kopeng diseberang Hotel Garuda, ibarat kata kalo di puncak Bogor ini adalah Masjid Atta’awun.

Dilantai 2, masjid yang baru dibangun

Salah satu sudut masjid di Kopeng

Pemandangan di Kopeng,diambil dr lt 2 masjid

Diambil dari atas masjid

Di Lt. 2 masjid Kopeng
Masjidnya terletak diseberang hotel Garuda


Sebenarnya kami ini pada bingung setelah sampai puncak, soalnya obyek wisata apa yang akan dikunjungi di Kopeng ini, apakah hanyas ekedar melewati saja?? Hanya menikmati suasana alam pegunungan?? Hanya mencari sensasi cuaca dingin?? (maklum di Brati panas skali)……

Yang pada akhirnya diputuskan untuk masuk obyek wisata Kopeng, itupun mengikuti  petunjuk tanda lalu lintas yang ada, dengan plang background warna hijau bertuliskan  “Obyek Wisata Kopeng”. Langsung saja mengikuti tanda tersebut.

Kurang lebih 50 M dari jalan utama Kopeng sudah ada gerbang masuk wisata Kopeng dan dikenakan karcis tanda masuk Rp. 10.000,- mobil terus melaju melihat-lihat ada apa diobyek puncak Kopeng. Sampai kesasar kepemukiman warga dimana jalanan semakin menyempit. Akhirnya balik arah mundur dilapangan sepak bola desa yang sangat rapi ditunjang dengan tribun, wlaupun hanya separo.

Ternyata obyek Wisata Kopeng hanya sebuah taman bermain, ada juga permainan ATV, tunggang kuda, area bermain anak. Pada saat kami kesana baru ada proses pembangunan waterpark.

Memilih2 jeruk baby yang manis-manis


taman yang indah dan asri


























Didepan hotel ini rencana akan dibangun waterpark



Yang membuat rasa tidak nyaman adalah kita akan selalu ditawari pedagang dengan bermacam-macam jualan, ada jagung bakar, gorengan, buah-buahan, syur-sayuran dan ada juga cafe berjalan dengan menyodorkan menu makanan. Lebih baik membeli dikios-kios tempat parkir yang harganya lebih murah. 

Setelah puas dengan Kopeng, ada ide untuk melanjutkan perjalanan ke Ketep Pass yaitu obyek wisata alam kegunungapian terutama gunung Merapi, karena plesiran kali ini tidak direncanakan maka untuk mengunjungi obyek wisata tersebut kita tunda. Kita putuskan untuk pulang melewati Demak, sekaligus melakukan wisata religi. Sampai ketemu di masjid Demak................dicoretan berikutnya......






Jumat, 25 Oktober 2013

Bukit Cinta Rawa Pening Ambarawa

Perjalanan wisata kemudian dilanjutkan menuju Bukit Cinta masih disekitar danau rawa pening Ambarawa. Ditempuh dalam perjalanan setengah jam, kemudian sampai ke obyek yang dituju. Rute perjalanan yang dituju melewati seputaran pinggiran rawa pening yang banyak ditumbuhi enceng gondok.
 
Obyek wisata ini berada di tepi Rawa Pening, terletak di Desa Kebondowo Kecamatan Banyubiru. Ditandai dengan pintu gerbang yang bertuliskan Obyek Wisata Bukit Cinta. Setelah masuk pintu gerbang kemudian masuk lahan parkir yang sangat luas, lebih luas dari bukitnya. Dipinggiran lahan parkir berderet kios-kios penjual makanan dan souvenir.
 
Sebelum naik ke bukit cinta, tampak patung naga raksasa yang melingkari bukit sekaligus sebagai loket penjualan tiket masuk. Didalam patung naga terdapat aquarium yang isinya berupa koleksi reptile dan ikan yang kondisinya kurang terawat. Patung Naga Raksasa ini juga mencerminkan bentuk dari Baru Klinting. Konon bukit ini tercipta karena tancapan lidi Baru Klinting.
Pintu gerbang masuk obyek wisata bukit cinta
Patung kepala naga dan ekornya, awal menaiki bukit cinta

 

 Mulut naga pintu masuk aquarium ikan dan reptile
 

 
Diatas bukit terdapat pohon pinus yang besar-besar menjulang tinggi dan rindang sehingga membuat suasana menjadi sejuk dan nyaman. Di bawah pohon yang rindang terdapat banyak penjual makanan lesehan seperti mie ayam, bakso, pop mie, kelapa muda dan minuman ringan. Ada juga penjual jagung bakar yang rasanya manis, fresh baru dipetik dari sawah. Di atas bukit juga terdapat makam, rumah makam itu ada namanya, tapi sayang saya lupa  nama orang yang dimakamkan di atas bukit cinta. Disekitaran bukit terdapat mainan anak-anak seperti ayunan, prosotan, kuda-kudaan dari besi  yang sebagian besar kondisinya kurang terawat. Dibawah ini adalah jepreten fotografer SG :






















Bukit cinta ini sebenarnya untuk melihat pemandangan rawa pening dari atas, tapi sangat disayangkan kondisi rawa pening yang dipenuhi enceng gondok, sehingga keindahan rawa pening tidak tampak. Bahkan disalah gunakan kawula muda untuk tempat pacaran.
Disamping itu ada pula penyewaan perahu motor yang disewakan seharga Rp. 60.000, mengitari danau, terasa sangat mahal karena tidak ditunjang dengan keindahan danau rawa pening, cuaca yang panas dan hanya melihat enceng gondok serta tidak dilengkapi dengan perangkat keselamatan (pelampung). BERBAHAYA....................
Sangat mengecewakan mengunjungi bukit cinta, tapi masih beruntung pada saat masuk kami tidak membeli tiket, karena dikira yang membeli tiket hanya yang akan masuk ke dalam naga raksasa untuk melihat aquarium ikan dan reptile.
 
Rasa kecewa sedikit terobati karena merasakan makanan wader dan udang rawa pening yang digoreng garing terasa renyah dan gurih. Enak…silahkan dicoba.